Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Pascatragedi Bom Mesir, Ardinal Putus Kuliah Setelah Dideportasi

Posted by On 2:06 AM

Pascatragedi Bom Mesir, Ardinal Putus Kuliah Setelah Dideportasi

Pascatragedi Bom Mesir, Ardinal Putus Kuliah Setelah Dideportasi

Warga Desa Kampar Kecamatan Kampa ini hampir dipastikan tidak bisa melanjutkan kuliahnya setelah dideportasi.

Pascatragedi Bom Mesir, Ardinal Putus Kuliah Setelah Dideportasi(AFP)Jenazah korban serangan di Masjid Al Rawda di Sinai, Mesir dikumpulkan.

TRIBUNPEKANBARU.COM, BANGKINANG - Ardinal Khairi tampaknya harus menanam impiannya meraih gelar Sarjana dari Al Azhar Mesir. Warga Desa Kampar Kecamatan Kampa ini hampir dipastikan tidak bisa melanjutkan kuliahnya setelah dideportasi.

Ardinal adalah satu dari lima mahasiswa asal Indonesia yang ditahan oleh otoritas pada Pemerintah Mesir. Penahanan ini terkait operasi penertiban pascaragedi bom di Masjid al-Rawdah Sufi di Bir al-Abed, Mesir, Jumat (24/11/2017) lalu.

Mahasiswa Semester III ini kehilangan harapan. Apalagi ia sudah berancang-ancang melanjutkan studinya ke program Magister di Maroko. "Sekarang nggak tau mau gimana lagi. Saya sudah dideportasi," katanya.

Ia menceritakan kejadian subuh pukul 04.00 waktu Kairo pada 22 Nopember. Apartemen tempatnya dan empat temannya tinggal tiba-tiba didatangi orang tidak dikenal. Beberapa orang menggedor pintu dan memerintahkan mereka keluar.

Diketahui, orang yang menggedor pintu adalah petugas dari Kepolisian setempat. Berseragam dan bersenjata lengkap. Setelah pintu dibuka, mereka langsung masuk. "Terus meminta Paspor dan HP kami. Lalu menyuruh kami pakai sepatu dan meminta ikut mereka," kata Ardinal dalam keterangan tertulisnya.

Mereka tidak diberi kesempatan bertanya, mereka mau dibawa kemana. Mereka dibawa dengan mobil Tremco dengan mata ditutup. Akhirnya mereka tiba di Markas Asykari. Lalu dimasukkan ke sebuah ruangan asrama militer. Barulah ikatan pada mata mereka dibuka.

"Dari pagi sampai jam empat sore, barulah kami ditanyai," ujar Ardinal. Hingga pukul 11 malam, ia dan temannya hanya berdiri dan hanya bisa duduk sesekali. Mereka kedinginan dan lapar karena tidak diberi makan.

Singkat cerita, tiba giliran Ardinal yang ditanyai. Petugas menanyakan paspornya. Ia menjawab, paspor sedang dalam pengurusan visa di Viktif. Lantas petugas menuduhnya berbohong. Ia sampai bersumpah, namun polisi itu tetap tidak percaya.

Akhirnya ia dan dua temannya ditahan. Sedangkan dua temannya yang lain dibebaskan hari itu juga karena memiliki paspor dan iqomah.

"Tiga hari kami di asrama, kemudian kami dipindahkan ke dalam sel tahanan yang berukuran dua kali satu (meter). Tahanan itu penuh asap rokok, kecoak," ujar Ardinal.

Di kamar isolasi itu, Ardinal dan seorang temannya mendekam selama delapan hari. Akhirnya dibebaskan tanpa penjelasan apapun. Bahkan dideportasi. Sedang satu orang lagi, hingga kini masih ditahan.

Ia adalah Fitra Nur Akbar. Juga berasal dari Kampar. (*)

Penulis: nando Editor: M Iqbal Sumber: Tribun Pekanbaru Ikuti kami di Dituding Siarkan Langsung Pornografi Anak di Facebook, TKW Ini Alami Nasib Apes Sumber: Google News | Liputan 24 Bangkinang

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »